PLURALISME1
Bahaya Faham Pluralisme Di Era Modern
Kondisi dunia dewasa ini sangat sesuai dengan gambaran Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم lima belas abad yang lalu:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ
سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ
حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا
رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Sungguh, kalian benar-benar
akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal
demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk
ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami
bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?”
Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim, No.
4822)
Di era modern dewasa ini kita tidak bisa pungkiri bahwa
yang sedang Allah سبحانه و تعالى beri giliran memimpin masyarakat dunia
ialah masyarakat Barat atau biasa disebut The Western Civilization.
Sedangkan masyarakat Barat terdiri dari masyarakat kaum Yahudi dan
Nasrani. Merekalah yang mengarahkan masyarakat dunia –termasuk ummat
Islam- mengikuti selera kebiasaan dan tradisi mereka. Ironisnya, tidak
sedikit ummat Islam yang dijuluki sebagai Ahlul-Qur’an juga mengekor
kepada apa saja yang ditawarkan oleh mereka. Seolah mereka tidak pernah
memperoleh petunjuk dari Allah سبحانه و تعالى bagaimana seharusnya
menata kehidupan pribadi dan sosial dalam kehidupan nyata. Padahal
Al-Qur’an merupakan satu-satunya Kitabullah yang masih terpelihara
keasliannya. Sedangkan Kitabullah yang diturunkan kepada Nabiyullah dari
kalangan Bani Israel –yakni Taurat dan Injil– telah mengalami distorsi
yang tidak bisa dibantah oleh para rabbi Yahudi dan pendeta/pastor
Nasrani.
Akhirnya The Western Civilization yang memimpin dunia
membuat berbagai bid’ah (hal-hal yang mengada-ada) dalam me-manage
kepemimpinan mereka atas segenap ummat manusia dewasa ini. Di antara
bid’ah tersebut ialah dikampanyekannya secara massif berbagai faham
sesat produk akal (baca: hawa nafsu) manusia yang sudah barang tentu
terputus dari landasan wahyu ilahi. Kita mengenal adanya berbagai faham
seperti pluralisme, sekularisme, liberalisme, humanisme, materialisme,
hedonisme, konsumerisme dan masih banyak lainnya.
Tulisan ini
ingin menyoroti bahaya faham pluralisme yang sedang gencar-gencarnya
dipromosikan di seantero dunia. Tidak kurang seorang pemimpin negara
adidaya Obama melazimkan dirinya untuk memberikan kuliah umum di salah
satu kampus ternama ibukota negara berpenduduk muslim terbesar di dunia
saat kunjungannya beberapa waktu yang lalu. Kalau kita perhatikan secara
seksama, maka di antara pokok pikiran utama yang ingin dipromosikan
melalui kuliah umum tersebut ialah faham pluralisme. Faham ini telah
diterima oleh banyak sekali manusia yang ingin disebut modern, tanpa
kecuali sebagian ummat Islam.
Pada tahap awal kampanye
Pluralisme terasa manis bak madu. Ajaran ini menyuruh manusia modern
agar “menghormati manusia lainnya apapun latar belakang keyakinan dan
agamanya.” Sampai di sini tentunya kita tidak punya masalah dengan faham
ini. Termasuk ajaran Islam-pun menganjurkan hal itu. Tetapi yang
menjadi masalah ialah bahwa faham Pluralisme tidak berhenti sampai di
situ. Faham sesat ini menuntut agar manusia modern lebih jauh lagi
mengembangkan keyakinannya, yaitu bahwa “semua agama sama” malah “semua
agama baik”, bahkan “semua agama adalah benar”. Nah, sampai di sini
tentunya seorang muslim yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah سبحانه
و تعالى sebagai Rabbnya, Islam sebagai din-nya dan Muhammad صلى الله
عليه و سلم sebagai Nabi dan Rasulullah harus secara tegas menolaknya.
Mengapa? Sebab bila ia menerima keyakinan seperti ini, maka ia berada
dalam bahaya besar. Ia terancam. Bukan terancam oleh sembarang fihak,
tetapi terancam oleh Allah سبحانه و تعالى
Apakah ancaman Allah
سبحانه و تعالى yang dimaksud? Di dalam ajaran Islam pelanggaran terhadap
aturan Allah سبحانه و تعالى ada dua macam: pertama, sebuah pelanggaran
yang menyebabkan pelakunya berdosa namun ia tetap dihukumi sebagai
seorang yang beriman di mata Allah سبحانه و تعالى . Orang ini berarti
telah melakukan suatu kemaksiatan dan tentunya dia harus memohon ampunan
Allah سبحانه و تعالى atas dosanya tersebut. Lalu kedua, pelanggaran
yang menyebabkan pelakunya tidak saja dicatat sebagai berdosa, tetapi
bahkan dicatat sebagai terlibat dalam nawaqidhul-iman (pembatalan iman).
Artinya, disebabkan pelanggaran tersebut Iman-Islamnya menjadi batal di
mata Allah سبحانه و تعالى. Dengan kata lain ia telah menjadi murtad…!
Wa na’udzubillahi min dzaalika…
Dalam kitab “Vonis Kafir”,
Ustadz Mas’ud Izzul Mujahid Lc menyebut adanya sembilan Pembatal
Keimanan yang disepakati oleh para ulama. Ketika menerangkan Pembatal
Keimanan nomor lima yang berjudul “Tidak Mengkafirkan Orang-orang
Musyrik, atau Ragu Terhadap Kekafiran Mereka, atau Membenarkan Mazhab
Mereka,” beliau menulis sebagai berikut:
Siapa saja yang
meragukan kekafiran orang-orang kafir berarti ia telah meragukan
ayat-ayat Al-Qur’an, sedangkan orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an
dihukumi kafir.
Di dalam kitabullah Al-Qur’anul Karim terdapat
beberapa ayat yang jelas-jelas menolak pemahaman apalagi keyakinan bahwa
“semua agama sama” atau “semua agama baik”, apalagi “semua agama adalah
benar”. Di antaranya sebagai berikut:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran [3] : 19)
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali
tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran [3] : 85)
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan,
kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. (QS.
Al-Hijr [15] : 2)
Tiga ayat di atas secara tegas menjelaskan
bahwa di mata Allah سبحانه و تعالى tidaklah benar bahwa “semua agama
sama” atau “semua agama baik”, apalagi “semua agama adalah benar”. Hanya
ada satu saja dien (agama/jalan hidup) yang Allah سبحانه و تعالى
ridhai, yaitu ajaran Al-Islam. Allah سبحانه و تعالى tidak meridhai
berbagai agama selain Al-Islam. Bahkan Allah سبحانه و تعالى telah
memberi gambaran kelak di akhirat nanti dimana kaum kafir bakal menyesal
dan menginginkan kalau seandainya mereka sewaktu di dunia termasuk ke
dalam golongan kaum muslimin alias penganut ajaran Al-Islam. Tetapi
tentunya keinginan tersebut telah terlambat. Sebuah penyesalan yang
tiada berguna saat itu. Maka, janganlah hendaknya seorang yang mengaku
beriman berfikir bahwa dirinya lebih berpengetahuan daripada Pencipta
dirinya, Allah سبحانه و تعالى . Jika Allah سبحانه و تعالى sudah dengan
tegas mendekritkan bahwa hanya Islamlah din yang diridhai di sisiNya,
maka jangan lagi seorang muslim memiliki pendangan selain mengikuti apa
yang Allah سبحانه و تعالى telah tegaskan itu. Bahkan dalam ayat lainnya
Allah سبحانه و تعالى menggunakan istilah dinul-haq (agama yang benar)
untuk menyebut agamaNya Islam ini.
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al
Qur’an) dan dinul-haq (agama yang benar/Al-Islam) untuk dimenangkan-Nya
atas segala agama lainnya, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.
(QS. At-Taubah [9] : 33)
Maka sudah sepatutnya seorang muslim
bersyukur bahwa dirinya telah diberikan Allah سبحانه و تعالى hidayah
kepada iman dan Islam. Dan untuk itu seorang muslim tidak dibenarkan
untuk memberikan “cek kosong” setelah memperoleh nikmat iman dan Islam.
Ia dituntut terus-menerus di dunia untuk membuktikan kejujuran
pengakuannya sebagai seorang yang beriman. Oleh karenanya seorang yang
mengaku beriman bakal dihadapkan oleh aneka fitnah (ujian) untuk
mendeteksi kejujurannya.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ
يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ
مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا
وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka
tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang
sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang
benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.
Al-Ankabut [29] : 2-3)
Di antara ujian tersebut adalah apa yang
sedang dialami kaum muslimin di era modern penuh fitnah dewasa ini. Ia
diuji dengan berbagai faham sesat yang sengaja dilansir oleh musuh-musuh
Islam yang sedang memimpin dunia secara hegemonik. Salah satunya ialah
faham Pluralisme yang sangat berbahaya ini. Barangsiapa yang begitu saja
mengekor kepada the Western Civilization alias the Judeo-Christian
Civilization (Peradaban yahudi-Nasrani), berarti ia telah merelakan
dirinya masuk bersama mereka ke dalam lubang biawak di dunia dan jurang
neraka di akhirat kelak nanti. Wa na’udzubillaahi min dzaalika.
اللهم إنا نعوذبك مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ
“Ya Allah, kami berlindung kepada Engkau dari cobaan yang memayahkan,
kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.”

